Thursday, February 28, 2008

Pesona Pantai Selatan di Ujung Genteng

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki pantai-pantai indah yang jumlahnya tak terhitung. Makanya rugi kalu tak suka berpanas-panas bermain air di pantai yang airnya bergradasi warna biru azuri dan hijau emerald.
Salah satu pantai indah dengan letak yang tak terlalu jauh dari Jakarta adalah Ujung Genteng. Terletak di pesisir pantai selatan Jawa Barat dan masuk wilayah Kabupaten Sukabumi, Ujung Genteng berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta.
Dapat ditempuh dalam waktu enam hingga tujuh jam perjalanan bermobil, petunjuk untuk menuju Ujung Genteng cukup jelas, yaitu keluar Tol Ciawi ke arah Sukabumi, dan mencari plang penunjuk arah ke Pelabuhan Ratu. Melewati beberapa kota kecil, seperti Cicurug, Cibadak, Kiara Dua, Jampang Kulon, dan Surade, tak perlu takut bosan selama perjalanan, karena mata akn dimanjakan dengan pemandangan serba hijau ketika melewati kelok perbukitan nan dramatis.
Bila pantai-pantai pemandangan matahari terbit atau terbenam saja, berkat letak geografisnya, di Pantai Ujung Genteng dapat dinikmati pemandangan matahari terbit maupun terbenam sekaligus. Oleh karena itu, tak heran banyak para pecinta fotografi yang berdatangan untuk mengabadikan warna-warni cantik yang memantul di langit maupun pantai.
Pantainya sendiri masih bersih dengan ciri khas pesisir selatan yang ombaknya besar. Namun uniknya, di sepanjang Pantai Ujung Genteng hingga Pantai Batu Nunggul tak terdapat ombak karena tertahan oleh karang yang berada sekitar 200 meter dari garis pantai. Lagipula bila saat pasang pun, air hanya mencapai kedalaman setengah hingga satu meter, sehingga sangat cocok untuk bermain air. Oleh karena itu tak perlu takut dengan citra pantai selatan yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa.
Tak hanya pesona pantainya yang menawan, namun di sekitar Ujung Genteng juga terdapat banyak tempat menarik. Bila kuat melek hingga tengah malam, silakan bertolak ke pantai untuk menyaksikan penyu hijau (Chelonia mydas) yang naik ke daratan untuk bertelur. Lokasi pantai penyu ini berada di Desa Pangumbahan, yaitu sekitar satu kilometer ke arah utara dari Pantai Ujung Genteng.
Namun, kehadiran penyu hijau untuk bertelur ini ada musim-musimnya, yaitu sepanjang bulan Januari hingga Juni. Medan untuk mencapai lokasi ini lumayan sulit, karena harus naik ojek menyeberangi aliran sungai. Di musim hujan air sungai ini meluap, sehingga jarang ada tukang ojek yang bersedia mengantar ke lokasi. Oleh karena itu, bila ingin melihat aksi penyu menggali lubang untuk bertelur sebaiknya dilakukan ketika musim hujan sudah lewat.Selain itu, pantai di sekitar Ujung Genteng juga populer untuk melakukan olahraga selancar, berkat ombaknya cukup menantang di beberapa tempat. Sedangkan bagi yang suka memancing. Ujung Genteng pun sering dikunjungi oleh para pemancing yang mengincar ikan marlin dan jenis ikan-ikan besar lainnya.

Taken from Klasika, Kompas

Menengok Sisi Lain Bali dari Nusa Penida

Menurut majalah Travel + Leisure, pada tahun 2007 kemarin Bali kembali ditetapkan sebagai pulau wisata terbaik di dunia, mengalahkan Phuket (Thailand), Galapagos (Ekuador), Santorini (Yunani) dan bahkan Hawaii. Penilaian itu dilakukan berdasarkan aktivitas yang ditawarkan pulau-pulau wisata di seluruh dunia, berikut kondisi pantai, situs budaya, pilihan akomodasi, restoran maupun pemandangan yang disajikan. Bali memiliki semua itu, sehingga tak heran bisa mengalahkan pulau-pulau eksotis lainnya di dunia.
Namun, karena sudah menjadi destinasi wisata, sulit untuk melihat kehidupan masyarakat Bali yang masih asli. Bila tertarik melihat sisi lain Bali yang belum terekspos untuk pariwisata, datanglah ke Nusa Penida. Ada tiga kepulauan yang membentuk wilayah Nusa Penida (pulau utama), Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Pulau-pulau mungil yang terletak di sebelah tenggara Bali dan dipisahkan olah Selat Badung ini terkenal dengan situs-situs menyelamnya.
Uniknya lagi, masyarakat di pulau berpopulasi hanya sekitar 40,000 jiwa ini menggunakan bahasa Bali yang lain daripada yang lain, yang bahkan tidak dimengerti oleh masyarakat Bali pada umumnya. Bahasa Bali memang memiliki banyak dialek, tergantung dari tempat bahasa itu digunakan. Karena secara administratif Nusa Penida termasuk wilayah Kabupaten Klungkung, maka seharusnya bahasa Bali yang digunakan adalah dialek Klungkung. Namun, ternyata tak begitu halnya yang terjadi di Nusa Penida karena bahasa yang digunakan masyarakatnya sama sekali tak terdengar seperti bahasa Bali.
Ada beberapa pilihan untuk menuju Nusa Penida, yaitu dari Sanur, Kusamba, Padang Bai, dan Benoa. Nusa Penida merupakan daerah kering dengan tekstur tanah berkapur. Sebagian orang mengasosiasikan pulau ini dengan tempat tandus serta kerasnya kehidupan masyarakat di sana yang sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan dan biruh, dan pedagang.
Kini perekonomian Nusa Penida telah menggeliat, seiring dengan perkembangan sarana transportasi yang menghubungkan pulau mungil tersebut dengan Bali. Mulai dari jukung-jukung yang berbadan lebar sampai kapal feri, tersedia setiap hari untuk menyeberangkan penumpang. Untuk ynag memilih berangkat dari pelabuhan Sanur, tersedia sampan berbentuk setengah jukung dan setengah perahu motor. Ukurannya lebar seperti boat tapi masih memakai ‘kantih’seperti jukung. Waktu yang ditempuh sekitar dua jam dan akan tiba di pelabuhan Toyapakeh, Nusa Penida.
Sedangkan bagi yang memilih berangkat dari Pelabuhan Padangbai, Karangasem, ada dua alternatif, yaitu dengan speedboat dan kapal feri. Bagi yang dikejar waktu, naik speedboat dan merupakan pilihan tepat karena waktu tempuhnya cukup singkat, yaitu kurang lebih 30-40 menit. Speedboat ini bisa sampai 15 kali sehari bolak-balik mengangkut penumpang dari Padangbai menuju Penida. Namun, bagi yang membawa kendaraan roda dua atau roda empat, maka tak ada pilihan lain selain naik feri. Hanya saja waktu tempuhnya sekitar satu hingga satu setengah jam. Jadwalnya pun hanya satu kali, yaitu di siang hari.
Sebenarnya ada alternatif lain, yaitu dari Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung, Bali Timur. Tapi pilihan ini tampaknya kurang populer. Padahal, sarana yang tersedia adalah jukung berbadan lebar. Alternatif ini biasanya menjadi pilihan bagi pada pedagang dari Nusa Penida karena biayanya relatif lebih murah. Buat yang bersedia membayar lebih, tersedia kapal milik Quicksilver yang melayani trip ke Nusa Penida dengan berangkat dari Pelabuhan Benoa. Alternatif terakhir, Nusa Penida juga bisa ditempuh lewat udara, yaitu dengan memakai jasa AirBali berupa helikopter berkapasitas empat orang dengan biaya satu kali jalan sekitar 800 dollar AS. Waktu tempuh yang dibutuhkan, cukup 14 menit saja.Perlembangan sektor pariwisata di sekitar Penida masih didominasi di Nusa Lembongan. Sedangkan di Pulau Nusa Penida masih belum berkembang, kecuali disinggahi untuk aktivitas snorkeling dan diving.

Taken from Klasika Kompas

Tuesday, November 27, 2007

about Global Warming (menurut saya)

Hi hi, kembali lagi,
Jadi begini lagi saudara-saudaraku!
Masih mengenai hal yang kemarein, tentang gelombang pasang yang menerpa daerah temanku di Jakarta Utara. It shocked me really. Gimana gak mau khawatir, temen gue kan tinggal di sana. Kalau si gendut terbawa arus kan.... lutju =l
Setelah aku membaca koran hari ini (Kompas), hal ini bisa dikarenakan memang lagi pasang gituh. Secara si rembulan tiga hari kemarin kan purnama.
Tapi kenapa pasang kali ini lebih heboh? Kalau itu (menurut gue lagi) dikarenakan suhu udara Jakarta yang suangat panas. Bayangin aja AC kalah ama panas. Soalnya emang dari hari Jumat kemaren, udara Jakarta tuh PUANAS! buanget. Padalah sebelumnya setiap sore pasti hujan dueres. (ekstreem buanget dah!). Tiba2 panas menerjang 3 hari berturut2. Sumuk banget. Bisa jadi karena udara yang memanas membuat air laut gerah dan mencari tempat untuk refreshing (personifikasi banget).
Terus kalau dirunut lagi kenapa dunia ini jadi neraka. Bisa jadi karena emang dunia kita ini sudah mendekati neraka (huehue, gak nyambung). Ya akibat perbuatan kita juga sih. Misalnya efek rumah kaca. Maksudnya gas emisi dari benda apa pun mobil, pabrik dll (mungkin rokok juga) itu membuat rusak lapisan ozon . Istilah gampangnya gas emisi ini adalah musuh berat si ozon dan mereka tidak punya defense yang kuat sehingga dengan mudah dikalahkan (kalau semakin bingung maafkan). Kalau lapisan ozon itu rusak, bayangkan saja suatu lapisan kertas atau kelambu yang bolong2. Nah, kalau gitu sinar matahari (bayangin aja nyamuk) yang seharusnya disaring dahulu oleh ozon karena matahari sinarnya kalau terkena langsung bisa membunuh juga, bisa langsung menyentuh kulit kita. Masih mending kalau cuma terasa panas doank. Bikin rusak kulit (kanker) terus kita yang cewek2 bisa tambah resah (Tul gak?).
Nah..sudah saatnya kita memberikan perlindungan ekstra terhadap bumi. Berhubung kita kan numpang di dia gituh. Berhutang budi lah istilahnya. Marilah kita tanam puhun sebanyak2nya (bukan mall sebanyak2nya). Biar si gas emisi si puhun aja nyang isep bukan malah terbang dan membunuh si ozon terus menerus. Apa lagi Indonesia kan masih paling banyak puhunnya dari pada daerah lain. Bersama Amazon mereka melindungi bumi dengan segenap tenaga. (hebat gak tuh!). Terus kesadaran kita untuk membuang sampah pada tempatnya. Dampaknya juga ada loh. Kalo dibuang sembarang apa lagi bahan kimia, waduh. Susah ngejelasinnya. Yang jelas parah. Hemat energi juga perlu loh. Ya..buat kepentingan bersama juga. huehuehue. Walaupun Global Warming topiknya, tapi emang akibatnya kalau dirunut bisa lari kemana2. Sumpe.
Mak dar It! (Maka dari itu) Marilah eum.... bersama2 kita selamatkan bumi ini. Kasihan bo udah tuam sudah saatnya giliran kita yang merawatnya. Tul kan?

Monday, November 26, 2007

Jakarta Utara Hari Ini

Jadi begini saudara-saudaraku semuanya (pake gaya Indra Bekti). Secara kita tahu daerah Jakarta Utara khususnya daerah Muarabaru dan sekitarnya, terkena gelombang pasang sekitar 2 meter sejak hari Jumat kemarin. Marilah kita merenungkan. Apakah Jakarta akan tenggelam, saudara-saudara? (Jangan sampai).

Mungkin hal ini terjadi karena kurang tertatanya sistem tata kota kita. Parit-parit besar dan gorong-gorong yang telah dibuat oleh pihak Belanda, tidak di manfaatkan. Inilah akibatnya kalau kita membenci secara membabi buta. Jujur aja jaman dulu emang pinteran Belanda daripada kita bukan? Mungkin para pemimpin kita jaman dulu menyayangkan perbuatan kita sekarang.

Terbukti kan, sekarang kita menyesal dan itu semua sudah terlambat.
Sial, kenapa sih gue gak ada waktu private untuk menulis. Yah to be continued dulu deh