Thursday, February 28, 2008

Menengok Sisi Lain Bali dari Nusa Penida

Menurut majalah Travel + Leisure, pada tahun 2007 kemarin Bali kembali ditetapkan sebagai pulau wisata terbaik di dunia, mengalahkan Phuket (Thailand), Galapagos (Ekuador), Santorini (Yunani) dan bahkan Hawaii. Penilaian itu dilakukan berdasarkan aktivitas yang ditawarkan pulau-pulau wisata di seluruh dunia, berikut kondisi pantai, situs budaya, pilihan akomodasi, restoran maupun pemandangan yang disajikan. Bali memiliki semua itu, sehingga tak heran bisa mengalahkan pulau-pulau eksotis lainnya di dunia.
Namun, karena sudah menjadi destinasi wisata, sulit untuk melihat kehidupan masyarakat Bali yang masih asli. Bila tertarik melihat sisi lain Bali yang belum terekspos untuk pariwisata, datanglah ke Nusa Penida. Ada tiga kepulauan yang membentuk wilayah Nusa Penida (pulau utama), Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Pulau-pulau mungil yang terletak di sebelah tenggara Bali dan dipisahkan olah Selat Badung ini terkenal dengan situs-situs menyelamnya.
Uniknya lagi, masyarakat di pulau berpopulasi hanya sekitar 40,000 jiwa ini menggunakan bahasa Bali yang lain daripada yang lain, yang bahkan tidak dimengerti oleh masyarakat Bali pada umumnya. Bahasa Bali memang memiliki banyak dialek, tergantung dari tempat bahasa itu digunakan. Karena secara administratif Nusa Penida termasuk wilayah Kabupaten Klungkung, maka seharusnya bahasa Bali yang digunakan adalah dialek Klungkung. Namun, ternyata tak begitu halnya yang terjadi di Nusa Penida karena bahasa yang digunakan masyarakatnya sama sekali tak terdengar seperti bahasa Bali.
Ada beberapa pilihan untuk menuju Nusa Penida, yaitu dari Sanur, Kusamba, Padang Bai, dan Benoa. Nusa Penida merupakan daerah kering dengan tekstur tanah berkapur. Sebagian orang mengasosiasikan pulau ini dengan tempat tandus serta kerasnya kehidupan masyarakat di sana yang sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan dan biruh, dan pedagang.
Kini perekonomian Nusa Penida telah menggeliat, seiring dengan perkembangan sarana transportasi yang menghubungkan pulau mungil tersebut dengan Bali. Mulai dari jukung-jukung yang berbadan lebar sampai kapal feri, tersedia setiap hari untuk menyeberangkan penumpang. Untuk ynag memilih berangkat dari pelabuhan Sanur, tersedia sampan berbentuk setengah jukung dan setengah perahu motor. Ukurannya lebar seperti boat tapi masih memakai ‘kantih’seperti jukung. Waktu yang ditempuh sekitar dua jam dan akan tiba di pelabuhan Toyapakeh, Nusa Penida.
Sedangkan bagi yang memilih berangkat dari Pelabuhan Padangbai, Karangasem, ada dua alternatif, yaitu dengan speedboat dan kapal feri. Bagi yang dikejar waktu, naik speedboat dan merupakan pilihan tepat karena waktu tempuhnya cukup singkat, yaitu kurang lebih 30-40 menit. Speedboat ini bisa sampai 15 kali sehari bolak-balik mengangkut penumpang dari Padangbai menuju Penida. Namun, bagi yang membawa kendaraan roda dua atau roda empat, maka tak ada pilihan lain selain naik feri. Hanya saja waktu tempuhnya sekitar satu hingga satu setengah jam. Jadwalnya pun hanya satu kali, yaitu di siang hari.
Sebenarnya ada alternatif lain, yaitu dari Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung, Bali Timur. Tapi pilihan ini tampaknya kurang populer. Padahal, sarana yang tersedia adalah jukung berbadan lebar. Alternatif ini biasanya menjadi pilihan bagi pada pedagang dari Nusa Penida karena biayanya relatif lebih murah. Buat yang bersedia membayar lebih, tersedia kapal milik Quicksilver yang melayani trip ke Nusa Penida dengan berangkat dari Pelabuhan Benoa. Alternatif terakhir, Nusa Penida juga bisa ditempuh lewat udara, yaitu dengan memakai jasa AirBali berupa helikopter berkapasitas empat orang dengan biaya satu kali jalan sekitar 800 dollar AS. Waktu tempuh yang dibutuhkan, cukup 14 menit saja.Perlembangan sektor pariwisata di sekitar Penida masih didominasi di Nusa Lembongan. Sedangkan di Pulau Nusa Penida masih belum berkembang, kecuali disinggahi untuk aktivitas snorkeling dan diving.

Taken from Klasika Kompas

No comments: